Presiden Filipina Rodrigo Duterte Ingin Merubah Nama Negara Menjadi Maharlika

Presiden Filipina Rodrigo Duterte Ingin Merubah Nama Negara Menjadi Maharlika

Filipina,Presiden Filipina Rodrigo Duterte ingin merubah nama negaranya menjadi Maharlika,Hal itu dia katakan ketika sedang pidato disebuah acara yang diadakan pada Senin lalu di kota Maguindanao dalam pidatonya Duterte mempunyai gagasan merubah nama Filipina menjadi Maharlika namun hal itu sangat ditentang oleh rakyat Filipina.

Pembicaraan tentang penggantian nama Filipina mulai menjadi perbincangan hangat di media sosial akhir akhir ini,setelah Presiden Filipina Rodrigo Duterte mempunyai wacana merubah nama negara Filipina menjadi Maharlika,Netizen Filipina tidak setuju jika nama negara Filipina dirubah menjadi Maharlika.

Dalam pidatonya Duterte mengatakan Negara itu bernama Filipina karena ditemukan oleh Ferdinand Magellan menggunakan uang Raja Philip Jadi ketika nutjob itu tiba dia menamakan negara Filipina tapi itu tidak apa apa,Suatu hari nanti kita ubah kata Duterte dalam pidato tersebut,Dia juga memberi saran agar nama Filipina diganti menjadi Maharlika.

Nama Maharlika sejak lama digaungkan oleh mantan Presiden Filipina Ferdinand Marcos yang telah menjabat Presiden Filipina pada tahun 1965-1986,Gagasan Duterte merubah nama Filipina sangat di tentang keras oleh rakyatnya,Netizen tidak setuju jika nama Filipina diganti menjadi Maharlika.

Tidak hanya Duterte saja yang menginginkan nama Filipina diganti menjadi Maharlika mantan anggota Kongres dan sekarang kandidat senator Gary Alejano telah mengajukan RUU yang akan membuka jalan untuk mengubah nama negara.

House Bill 5867,atau Undang-Undang yang Merupakan Komisi Pengganti Nama Geografis untuk Mengganti Nama Negara Kita, diajukan pada 7 Juni 2017 untuk membentuk komisi yang didedikasikan untuk mengubah nama Filipina.

Jika kita ingin benar-benar mandiri,maka kita harus membuang ikatan kolonialisme dengan membangun identitas nasional kita sendiri.Agar negara kita maju,kita harus mengidentifikasi nama untuk negara kita yang benar-benar mencerminkan aspirasi nasional kita,sebuah nama yang menandakan nilai-nilai kita dan penentuan nasib sendiri,”kata Alejano,seorang mantan prajurit.

Sebuah jajak pendapat yang dijalankan oleh Rappler pada saat itu menghasilkan lebih dari 80% responden Filipina tidak menyetujui proposal tersebut.Banyak yang mengatakan itu akan membuang-buang waktu dan uang,menunjukkan bahwa itu tidak akan menyelesaikan masalah mendesak negara,seperti kemiskinan dan korupsi.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...