Umat Buddha Ekstremis Ke Rohingya:Tinggalkan Atau Kita Akan Membunuh Kalian Semua
Minggu, 17 September 2017
Edit
Myanmar,Ribuan Muslim Rohingya di Myanmar barat laut memohon jalan yang aman dari dua desa terpencil yang dikepung oleh ekstremis Budhha,Laporan media mengatakan situasinya sangat mengerikan di desa Ah Nauk Pyin dan Naung Pin Gyi di mana rute pelarian ke negara tetangga Bangladesh panjang dan sulit.
Maung Maung,seorang pejabat Rohingya di Ah Nauk Pyin mengatakan bahwa penduduk desa telah mengundurkan diri untuk pergi,namun pihak berwenang tidak menanggapi permintaan keamanan mereka "Kami akan segera kelaparan dan mereka mengancam untuk membakar rumah kami," katanya kepada Reuters melalui telepon.
Seorang etnis Rohingya lainnya yang meminta untuk tidak disebutkan namanya juga mengatakan bahwa umat Buddha Ektremis datang ke desa yang sama dan meneriakkan "Tinggalkan desa atau kami akan membunuh kalian semua"kata warga Rohingnya,Maung Maung menambahkan bahwa dia telah menghubungi polisi Myanmar setidaknya 30 kali untuk melaporkan ancaman terhadap desanya.
Pada tanggal 13 September pejabat Rohingya mengatakan bahwa dia menerima telepon dari seorang penduduk Rakhine yang dia kenal "Tinggalkan besok atau kita akan datang dan membakar semua rumah Anda,"kata orang telepon di telepon,Ketika pejabat Rohingya memprotes bahwa mereka tidak memiliki sarana untuk melarikan diri pria tersebut menjawab "Itu bukan masalah kami.".
Maung Maung juga mengatakan bahwa para tetua desa telah mengirim surat kepada penguasa Rathedaung pada tanggal 7 September meminta dipindahkan ke "tempat lain"Mereka belum mendapat tanggapan katanya.dikutip media Presstv.
Pada tanggal 31 Agustus polisi Myanmar mengadakan pertemuan di pinggir jalan antara kedua desa tersebut warga Rohingya yang menghadiri pertemuan tersebut mengatakan bahwa alih-alih menangani keluhan Rohingya petugas Rakhine menyampaikan sebuah ultimatum.
"Mereka mengatakan bahwa mereka tidak ingin ada orang Muslim di wilayah ini dan kami harus segera pergi,"kata warga Rohingya Ah Nauk Pyin yang meminta namanya dirahasiakan.Penduduk desa mengatakan bahwa mereka tidak memiliki kapal untuk meninggalkan daerah yang bergejolak.
